Sejarah Masjid Al Aqsa di Masa Para Nabi

by admin
853 views

Oleh: Dr. Syarif Amin Abu Syammala

Sudah jelas bagi kita pada tulisan sebelumnya bahwa yang membangun masjid Al Aqsa adalah Nabi Adam as. Salah satu penguatnya adalah bahwa para Nabi yang datang setelahnya, mereka juga memuliakan Al Aqsa dan pernah shalat di dalamnya. Khusus nya para Nabi yang pernah menetap dan mengunjungi daerah Baitul Maqdis karena mengikuti sunnah bapak mereka Nabi Adam as –yang membangun Baitul Maqdis dan beribadah di dalamnya-. (Lihat: At Tijan fii Muluk Bani Humair; hal 22)

Ibrahim as dan anak keturunannya memakmurkan Al Aqsa ..

Allah swt memilih Baitul Maqdis sebagai tempat tinggal baru bagi Ibrahim as dan tempat hijrahnya setelah mengalami kezaliman dan penderitaan disebabkan oleh kaumnya sendiri di Iraq. Allah swt berfirman dalam surah Al Anbiya’ ayat 71:

“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.”
Banyak sumber yang menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim as berulang kali datang ke Mekkah dari Baitul Maqdis. Pada salah satu kunjunganya, beliau pernah memperbaharui bangunan Ka’bah. Meskipun demikian, kita belum menemukan sumber yang menerangkah apakah Nabi Ibrahim as pernah memperbaharui bangunan masjid Al Aqsa seperti yang dia lakukan terhadap Ka’bah atau tidak? Yang perlu diperhatikan adalah Ibnu Taimiyah pernah menyebutkan bahwa “Masjid Al Aqsa telah ada sejak era Nabi Ibrahim as,” dan pada tempat lain beliau menyebutkan bahwa Al Aqsa dulu adalah tempat shalat para Nabi sejak jaman Nabi Ibrahim as, “Masjid Al Aqsa adalah tempat shalat para Nabi sejak jaman Al Khalil (Nabi Ibrahim as).”(Ibnu Taimiyah: Al Fatawa, 27/257).

Ketika Nabi Ibrahim as hijrah dan menetap di Baitul Maqdis, beliau ditemani oleh Nabi Luth as. Nabi Ibrahim as dikaruniai Ismail dan Ishaq ketika beliau berada di Baitul Maqdis. Begitu juga Nabi Ishaq as dikaruniai Ya’qub ketika berada di Baitul Maqdis. Nabi Ya’qub as kemudian menetap di Baitul Maqdis dan dikaruniai Yusuf as hingga anak-anaknya yang lain, yang kemudian keturunan mereka ini disebut sebagai Bani Israil. Setelah kisah masyhur Yusuf as dan saudara-saudaranya di Mesir, Nabi Ya’qub as pada akhir hayatnya pindah ke Mesir hinggga wafat disana. Namun jasadnya kemudian dipindahkan ke daerah Baitul Maqdis dan dimakamkan di samping ayahnya Ishaq as dan Kakeknya Ibrahim as sesuai dengan wasiatnya. Dari keturunan Ya’qub as (Bani Israil), Allah swt mengutus Musa as sebagai Nabi di Mesir. Lalu kisah yang terkenal antara Musa as dan Firaun, hingga Allah swt perintahkan Musa as dan kaumnya untuk keluar dari Mesir  dan hijrah menuju Baitul Maqdis untuk membebaskan nya, firman Allah swt dalam Surah Al Maidah ayat 21:

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah diteuntukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.”

Namun kemudian mereka takut dan merasa lemah, maka Allah swt menghukum mereka. Maka tersesatlah mereka dalam labirin di gurun Sina’ selama 40 tahun. Nabi Harun as dan Nabi Musa as juga bermaksud untuk hijrah ke tanah suci (Palestina), tapi Nabi Harun as meninggal dalam labirin tersebut. Adapun Nabi Musa as, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah saw, ketika telah dekat waktu kematiannya dia berdoa dan memohon kepada Allah swt agar mendekatkan nya ke Baitul Maqdis dengan jarak sepelemparan batu. Abu Hurairah ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabada,: “seandainya aku berada di sana, niscaya aku akan menunjukkan kepada kalian kuburnya (Nabi Musa) yang berada di sisi jalan di bawah bukit pasir yang berwarna merah.” (HR Bukhari, Muslim). Hadits ini menunjukkan kepada kita akan usaha Nabi Musa as untuk mendekat ke masjid Al Aqsa,  karena ia adalah sumber keberkahan. Setelah wafatnya Musa as dan berakhirnya masa tersesat 40 tahun di gurun Sina’, sebagian besar atau bahkan seluruh orang-orang yang menolak untuk masuk ke tanah suci (Baitul Maqdis) meninggal. Maka kemudian Yusya’ bin Nun memimpin generasi baru dan membawa mereka masuk ke tanah suci. Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya matahari tidak ditahan (cahayanya),kecuali kepada Yusya’ ketika ia dalam perjalanan menuju Baitul Maqdis.” (HR. Ahmad; 8145).

Yusya’ as adalah salah satu nabi yang tidak disebutkan dalam Al Quran, akan tetapi Rasulullah saw telah mengabarkan tentang kenabiannya. Abu Hurairah telah meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda: “salah satu Nabi pernah berperang, lalu ia berkata kepada matahari,”engkau diperintah (oleh Allah swt) dan aku pun demikian. Ya Allah, tahanlah (cahayanya) atas kami.” (HR Ahmad; 8070)

Beginilah Baitul Maqdis kembali ke pangkuan para muwahhidin (orang-orang yang mengesakan Allah swt). Maka menjadi sebuah kemestian bahwasanya para Nabi dan kaum muslimin telah memakmurkan masjid Al Aqsa baik dengan shalat, dzikir atau mentauhidkan Allh swt.

Era Nabi Sulaiman as

Setelah Yusya’ bin Nun, Al Quran berbicara tentang nabi-nabi yang berasal dari Bani Israil yang memerintah Baitul Maqdis: mereka adalah Nabi Daud as dan anaknya Nabi Sualiman as. Tampaknya ketika itu Baitul Maqdis butuh pembangunan dan kontruksi, maka Nabi Sulaiman as pun memperbaharui bangunannya. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr ra, dari Rasulullah saw beliau bersabda: “Ketika Sulaiman as telah selesai membangun Baitul Maqdis, beliau memohon kepada Allah tiga hal: agar Allah swt memberi nya hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, agar Allah swt memberi nya kekuasaan yang tidak akan dimiliki oleh seorang pun setelah nya, dan agar siapa saja yang datang ke Baitul Maqdis semata-mata hanya ingin shalat  di dalamnya, keluar dari dosa-dosanya seperti baru dilahirkan dari rahim ibunya.” Lalu Rasulullah saw melanjutka: “adapun permintaan dua yang pertama dikabulkan oleh Allah swt. Dan aku berharap agar permintaan yang ketiga pun dikabulkan.” (HR Ahmad: 6486, Nasa’i: 762, dan selain mereka)

Tentu saja pembangunan ini hanyalah pembaharuan bukan pembangunan dari awal, persis seperti pemabaharuan bangunan masjid Haram (Ka’bah) oleh Nabi Ibrahim as. Imam Al Qurthubi menjelaskan hal itu dalam syarah hadits Abu Dzar ra ketika ia bertanya kepada Nabi saw: “Masjid apa yang pertama kali di bangun di muka bumi?” Nabi saw menjawab: “Masjid Haram.” Kemudian ia bertanya lagi: “kemudian apa?” Nabi saw menjawab: “Masjid Al Aqsa.” Ia bertanya lagi: “berapa lama jarak anatara kedua nya?” Nabi saw menjawab: “Empat puluh tahun.” (HR Bukhori: 3212, Muslim: 850)

Maka bisa saja muncul pernyataan bahwa masjid Haram dibangun oleh Nabi Ibrahim as berdasarkan nash Al quran dan masjid Al Aqsa dibangun oleh Nabi Sulaiman as sebagaimana dalam hadits tersebut. Pernyataan ini bisa dijawab, bahwa: “Ayat dan Hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa masing-masing Nabi Ibrahim as dan Nabi Sulaiman membangun dari awal, tetapi mereka hanya memperbaharui dan melanjutkan apa yang telah dibangun oleh orang lain. Dan telah diriwayatkan bahwa yang membangun masjid Haram pertama kali adalah Nabi Adam as. Karena itu, bisa jadi, ada orang lain selain Nabi Adam yang berasal dari anak keturunannya yang membangun Baitul Maqdis 40 tahun setelah nya. (Al Qurthubi: Al Mafham Lima Asykala min Kitab Talkhish Muslim, juz 2, hal 114-115)

Sumber-sumber Islam tidak banyak menyebutkan informasi tentang masjid Al Aqsa yang diperbaharui bangunannya oleh Nabi Sulaiman as. Kalaupun ada yang disebut, maka hal itu disandarkan kepada kisah-kisah israiliyat dan taurat. Sulit untuk menetapkan kebenaran nya. Akan tetapi kita percaya bahwa pembanguna tersebut adalah sangat cocok dengan karakter, kemampuan dan kapasitas yang Allah swt berikan kepada Nabi Sulaiman as. Allah swt berfirman dalam surah Saba’ ayat 12-13:

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaanya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.”

Era Nabi Zakaria as, Nabi Yahya as dan Nabi Isa as

Jelas bahwa banyak dari para Nabi mengikuti jejak Nabis Sulaiman as di Baitul Maqdis, akan tetapi Al Quran hanya berbicara tentang tiga saja dari mereka dalam satu periode. Mereka yang tiga ini sangat terikat dengan Baitul Maqdis dan masjid Al Aqsa, mereka adalah: Nabi Zakaria as beserta anaknya Nabi Yahya as, dan Nabi Isa as. Masjid Al Aqsa sangat penting dalam kehidupan, da’wah dan usaha mereka yang terus menerus untuk memberikan petunjuk dan memperbaiki Bani Israil. Masjid Al Aqsa juga merupakan tempat kumpul dan minbar da’wah mereka.

Setelah istri Imron (ibunda dari Maryam) bernadzar bahwa anaknya yang akan lahir kelak akan berkhidmat di masjid Al Aqsa, sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang soleh dari Bani Israil kala itu. Kemudian ia melahirkan anaknya yaitu Maryam binti Imron. Lalu Zakaria as menempatkan Maryam disuatu tempat mulia di masjid Al Aqsa agar ia bisa beribadah dan berkhidmat di situ.  Setelah itu, terjadilah peristiwa yang terkenal yaitu dia mengandung Isa as. Maka Isa as adalah Nabi terakhir yang dilahirkan dan diutus menjadi nabi di Baitul Maqdis dan nabi terakhir sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. (Ibnu Katsir: Qoshash Al Anbiya’, hal. 681-692)

Nabi Zakaria as dikaruniai seorang anak bernama Nabi Yahya as, dimana Nabi Isa as hidup sejaman dengan nya. Mereka benar-benar berusaha dalam mendakwahi Bani Israil dan menjalankan tugas-tugas kenabian. Hal itu ditujukkan dalam sebuah hadits shahih, dari Al Harits bin Al ‘Asy’ari ra bahwa Nabi saw telah bersabda: “sesungguhnya Allah swt telah memerintahkan Yahya bin Zakaria dengan lima perkara, dia mengamalkan nya dan memerinthahkan Bani Israil untuk mengamalkan nya pula,” Nabi saw melanjutkan: “tapi dia lamban dalam menjalankan lima perkara tersebut,” lalu Isa berkata kepada nya: “sesungguhnya engkau telah diperintahkan dengan lima perkara dimana engkau mengamalkan nya dan memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkan nya juga, maka pilihlah apakah engkau yang akan memerintahkan Bani Israil mengamalkan nya atau aku yang akan memerintahkan mereka untuk mengamalkan nya?” Maka Yahya menjawab: “Jika engkau mendahului ku menyeru mereka untuk mengamalkan lima perkara tersebut, maka aku takut akan disiksa,” kemudian dia mengumpulkan Bani Israil di Baitul Maqdis hingga masjid menjadi penuh dan orang-orang duduk di atas balkon-balkon, lalu ia mengingatkan mereka …….” (HR Ahmad: 17541). Hadits ini menujukkan bahwa dulu masjid Al Aqsa cukup besar dan luas, dan juga memiliki balkon-balkon yang tinggi pada era Nabi Isa as.

Setelah Nabi Isa as, maka terhentilah pengutusan para nabi. Hingga Allah swt mengutus Nabi Muhammad saw untuk menyempurnakan jalan yang telah dilalui oleh para Nabi sebelum nya bersama Al Aqsa. Maka Nabi saw melakukan isro’ ke masjid Al Aqsa dan mi’roj ke langit dari masjid Al Aqsa, dan di dalamnya pula Nabi saw bertindak sebagai imam shalat bagi para nabi. Masih banyak detail-detail lain yang akan kami kupas pada tulisan berikut nya, dengan izin Allah swt.

Karena itu, kita melihat hubungan dan ikatan masjid Al Aqsa dan para nabi baik dari sisi bangunan, sejarah ataupun keutamaan nya. Maka semakin agung lah kedudukannya, semakin bertambahlah kesuciannya dan semakin berakarlah keberkahannya. Yang membangun  nya adalah seorang nabi, begitu pula yang memperbaharui bangunan nya adalah seorang nabi atau bahkan beberapa nabi. Para nabi telah shalat di dalamnya. Untuk membebaskan nya mereka telah berjuang dengan sungguh-sungguh. Di dalamnya mereka telah menyampaikan da’wah mereka. Mereka jadikan ia sebagai tempat hijrah. Lalu mereka hidup dan mati di sekitarnya pula.

Related Articles